4 Hari Bertahan di Laut, Bocah Korban KM Nurul Salsa Saksikan Ibunya Meninggal di Atas Pelampung
Selayar, RajaBerita.id – Seorang bocah berinisial DY harus menghadapi pengalaman memilukan setelah menjadi korban tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Selama empat hari bertahan hidup di tengah laut menggunakan pelampung gabus, DY menyaksikan sang ibu meninggal dunia akibat kehabisan tenaga sebelum akhirnya berhasil diselamatkan nelayan bersama sejumlah penyintas lainnya.
Peristiwa itu terjadi setelah KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polasi, Kepulauan Selayar, saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu (15/7/2026).
Mereka berpegangan pada pelampung gabus bersama enam penumpang lainnya sambil menunggu pertolongan.
Namun, kondisi laut yang dihantam gelombang tinggi membuat mereka kesulitan bertahan.
Saat malam pertama, ombak yang semakin besar membuat ayah dan ibu DY terpisah. DY tetap berada di atas pelampung bersama sang ibu dan beberapa penyintas lainnya.
Memasuki hari ketiga, kondisi ibu DY terus melemah hingga akhirnya meninggal dunia di atas pelampung karena tidak lagi sanggup bertahan mengapung.
“Nyawanya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung kasian,” kata paman DY, Andi Samad, yang juga menjadi penyintas dalam peristiwa tersebut, dikutip dari Tribun Timur, Senin (20/7/2026).
Jenazah ibu DY kemudian terpaksa ditinggalkan di laut setelah para penyintas tidak lagi memiliki kemampuan untuk membawanya sambil terus bertahan hidup di tengah lautan.
Bertahan Empat Hari hingga Ditemukan Nelayan
Setelah kehilangan ibunya, DY bersama beberapa penyintas lainnya terus bertahan di atas pelampung yang hanyut terbawa arus.
Selama berhari-hari mereka berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada kapal yang melintas.
Harapan baru muncul pada hari keempat ketika salah seorang penyintas mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan memantulkan cahaya matahari ke arah laut dengan harapan dapat menarik perhatian kapal yang melintas.
Upaya itu membuahkan hasil. Nelayan KM Sinar Mattoanging 04 asal Bulukumba yang sedang melintas di Laut Flores melihat pantulan cahaya tersebut dan segera mendekati lokasi.
Para penyintas kemudian dievakuasi ke atas kapal. Anak Buah Kapal (ABK) KM Sinar Mattoanging 04 selanjutnya melaporkan penemuan korban kepada pemilik kapal, yang kemudian diteruskan kepada Basarnas Makassar sehingga proses evakuasi dapat segera dilakukan.
Setelah tiba di Kepulauan Selayar, DY dan penyintas lainnya menjalani pemeriksaan kesehatan serta mendapatkan perawatan di RSUD Khayyung karena kondisi tubuh yang lemah setelah beberapa hari terombang-ambing di laut. (Kompas)




