Fakta Baru Kasus Kyai Ponpes Padang Ati: Hasil DNA Bayi Tidak Cocok, Korban Akui Hubungan dengan Orang Lain

Jakarta, RajaBerita.id – Teka-teki mengenai status biologis anak yang dilahirkan oleh FZ, mantan santriwati Padepokan Padang Ati Pekalongan, akhirnya terjawab. Hasil tes DNA dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri menunjukkan bahwa bayi tersebut bukan anak biologis dari tersangka AH (sebelumnya ditulis AKF), oknum pengasuh padepokan.

Kendati demikian, polisi menegaskan bahwa fakta baru ini sama sekali tidak menggugurkan status hukum tersangka dalam kasus dugaan kekerasan seksual yang sedang berjalan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Pekalongan Kota AKP Setyanto menjelaskan, penyidik telah mengambil sampel DNA dari tiga pihak, yaitu tersangka AH, korban FZ, serta bayi yang bersangkutan.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anak tersebut bukan merupakan hubungan biologis antara AH dengan FZ,” ujar Setyanto dikutip dari video wawancara beredar, Selasa (7/7).

Fokus pada UU TPKS, Bukan Ayah Biologis

Meskipun hasil DNA menunjukkan status negatif dengan tersangka, AKP Setyanto menggarisbawahi bahwa fokus utama penyidikan ini adalah tindakan pidana kekerasan seksual, bukan penentuan garis keturunan sang bayi. Polisi tetap bergerak berdasarkan payung hukum Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

“Kami tetap melaksanakan penyidikan ini. Kami tidak berorientasi pada hasil tes DNA, namun pada perbuatan yang diduga dilakukan tersangka,” tegas Setyanto.

Ia menambahkan, identitas ayah biologis dari bayi tersebut berada di luar konteks perkara yang sedang mereka tangani saat ini.

Pengakuan Korban: Hubungan Lain dan Modus Kamar Gelap

Dari hasil pendalaman psikologis dan pemeriksaan intensif, korban FZ mengaku sempat menjalin hubungan dengan pria lain pada Maret hingga April 2025. Garis waktu ini dinilai sinkron dengan hasil uji forensik DNA yang dikeluarkan oleh Puslabfor.

“Jadi untuk hasil penyelidikan kami, pemeriksaan dari FZ, memang dia mengakui bahwa perbuatan itu dilakukan dengan oleh orang lain, seseorang, terjadi pada sekitar bulan Maret-April 2025 setelah Lebaran tahun 2025,” katanya.

Namun, di samping fakta tersebut, korban FZ membeberkan kesaksian memilukan mengenai apa yang dialaminya di dalam padepokan. Korban mengaku menjadi korban kekerasan seksual secara berulang oleh tersangka dalam kurun waktu April hingga September 2025.

Aksi bejat tersebut diduga terjadi hampir setiap minggu pada tengah malam. Korban menjelaskan situasi kamarnya saat itu sangat gelap tanpa pencahayaan, sehingga ia tidak bisa melihat wajah pelaku secara langsung.

“Kemudian setelah yang bersangkutan FZ ini melakukan perbuatan dengan orang lain itu, dari pengakuan yang bersangkutan, dia memang pada saat di Padepokan Padang Ati itu ada seseorang yang melakukan persetubuhan dengan FZ, yaitu dia mengetahui ciri-cirinya adalah dari batuk yang bersangkutan, atau diduga adalah dari AH,” ungkap Setyanto.

Meski ada santriwati lain yang berada di ruangan yang sama saat kejadian, hasil pemeriksaan saksi menunjukkan tidak ada yang mengetahui adanya peristiwa tersebut.

Awal Mula Kasus Santriwati Hamil Karena Mimpi di Pekalongan

Sebelumnya, warga Desa Kedungkebo, Kecamatan Karangdadap, Pekalongan, geger oleh kabar kehamilan FZ. Pihak keluarga mengklaim bahwa santriwati tersebut melahirkan tanpa pernah melakukan hubungan seksual dengan pria mana pun.

Kabar ini mulai menyebar luas setelah adanya pertemuan resmi di kediaman ayah F di Dukuh Keberkahan pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Pertemuan itu dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga jajaran Polsek Karangdadap.

Ayah FZ yang berinisial S mengungkapkan bahwa pihak keluarga awalnya sangat kebingungan dengan kondisi sang anak. Namun, mereka memilih memercayai pengakuan F.

“Putri kami berinisial F mengaku sama sekali tidak melakukan hubungan dengan siapapun. Ia meyakini kejadian ini adalah kehendak dan takdir Allah semata,” kata S di hadapan warga, dikutip dari Radar Pekalongan, Sabtu (23/5).

S juga menceritakan bahwa sebelum perutnya membuncit, F kerap mengalami mimpi-mimpi aneh yang tidak biasa. Fenomena mimpi tersebut dialami F sejak dirinya masih menimba ilmu di pondok pesantren hingga kembali ke rumah. Pihak keluarga sendiri baru menyadari tanda-tanda kehamilan F sejak September 2025 setelah ia berhenti mengalami menstruasi.